. . . "Selamat Datang Semoga Bisa Menjadi Sarana Mempererat Ukhuwah" "Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah." Ballighu Annii Walau Ayyah

“Ahad!”

Satu kata cinta Bilal

“Selimuti aku…!”

Dua kata cinta Sang Nabi

“Islammu, itulah maharku!”

Tiga kata cinta Ummu Sulaim

“Ya Rasulullah, saya percaya…!”

Empat kata cinta Abu Bakr

“Ya Rasulullah, izinkan kupenggal lehernya!”

Lima kata cinta Umar

Jumat, 13 Januari 2012

Profil Psikolog Muslim: Abu Zaid al-Balkhi

(Insist) Abu Zayd al-Balkhi (235H-322H/849M-934M) yang memiliki nama asli Ahmad ibn Sahl adalah pakar multi disiplin ilmu pengetahuan (polymath). Muhammad ibn Ishaq Abul Faraj al-Nadim atau lebih dikenal dengan Ibn al-Nadim, dalam kitabnya al-Fihrist menyebutkan bahwa al-Balkhi memiliki 41 karya dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Diantaranya di bidang 'Ulum al-Qur'an, Kalam, matematika, geografi, kedokteran, ilmu jiwa, perbandingan agama, politik, sejarah, linguistik, astronomi, sastera dan filsafat. Namun dari karya-karyanya itu, hanya dua kitab yang sampai pada kita, kitab suwar al-aqalim di bidang geografi dan masalih al-abdan wa l-anfus di bidang psikologi.

Al-Balkhi lahir di Syamistiyan, wilayah Balkh (Bactra) dan kini berada di Afghanistan. Ayahnya adalah seorang guru anak-anak. Al-Balkhi tumbuh dewasa dan tinggal di Baghdad selama 8 tahun, di saat kekuasaan Daulah Abbasiyah sudah merosot dan hanya meliputi Baghdad dan sekitarnya. Pada masanya timbul kekacauan politik, sehingga kerusuhan bermunculan di mana-mana.

Namun demikian, kondisi negara yang carut marut di zaman al-Balkhi bukanlah penghalang bagi para ulama untuk mendedikasikan umurnya dalam melanjutkan tradisi ilmu. Bahkan dalam suasana seperti itu bermunculan sejumlah cendekiawan, di antaranya adalah Abu Zayd al-Balkhi.

Al-Balkhi adalah intelektual muslim yang memperkenalkan psikologi Islam dan neuroscience, yakni cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan anatomi, fisiologi, biokimia, atau biologi molekul jaringan saraf, khususnya yang berkaitan langsung dengan perilaku dan pengetahuan.

Di samping itu, dia juga terkenal sebagai tokoh yang pertamakali menemukan psikologi kognitif dan medis (cognitive and medical psychology). Dialah orang yang pertamakali membedakan antara sakit saraf (neurosis) dan sakit jiwa (psychosis), serta orang yang pertamakali mengklasifikasikan gangguan saraf (neurotic disorders) dan perintis terapi kognitif (cognitive therapy) dalam rangka mengkaji pengelompokan gangguan penyakit ini.

Psikologi kognitif (cognitive psychology) adalah cabang ilmu psikologi yang menyelidiki proses kejiwaan internal, seperti penyelesaian masalah, daya ingatan dan bahasa. Sedangkan psikologi medis (medical psychology) berarti merujuk pada keahlian praktik pengobatan klinik ahli psikologi. Sementara terapi kognitif (cognitive therapy) adalah pendekatan psikoterapi yang bertujuan mempengaruhi gangguan emosi, perilaku dan kesadaran melalui prosedur yang sistematis.

Al-Balkhi mengelompokkan penyakit saraf dalam empat gangguan kondisi mental-kejiwaan, yaitu ketakutan dan kegelisahan (fear and anxiety), amarah dan penyerangan (anger and aggression), kesedihan dan depresi (sadness and depression), serta obsesi atau gangguan pikiran (obsession).

Lebih lanjut al-Balkhi menggolongkan tiga jenis depresi, yaitu depresi normal atau kesedihan, depresi yang berasal dari dalam tubuh dan depresi yang berasal dari luar tubuh. Individu yang sehat harus selalu menjaga kesehatan pikiran dan perasaan. Maka menurutnya, keseimbangan antara pikiran dan tubuh sangat diperlukan untuk memperoleh kesehatan yang prima. Sebaliknya ketimpangan antara keduanya justru akan menimbulkan penyakit. Di samping itu, dia juga memperkenalkan konsep pengobatan yang berlawanan (al-'ilaj bi l-dhid, reciprocal inhibition), di mana konsep ini dikenalkan kembali ribuan tahun kemudian oleh Joseph Wolpe di tahun 1969.

Konsep kesehatan mental dan mental individu, menurutnya, selalu berhubungkait dengan kesehatan spiritual. Dia adalah orang yang pertamakali berhasil mengkaji bermacam-macam penyakit yang secara langsung mempunyai keterkaitan antara fisik dan jiwa, seperti yang diulasnya dalam kitabnya Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Asupan Badan dan Jiwa). Al-Balkhi menggunakan istilah al-Tibb al-Ruhani (pengobatan spiritual) untuk menggambarkan kesehatan jiwa, sedangkan untuk menjelaskan pengobatan mental, digunakannya istilah Tibb al-Qalb (pengobatan kalbu).

Al-Balkhi sering mengkritik dokter-dokter di zamannya karena selalu memfokuskan perhatian mereka pada penyakit fisik saja dan mengabaikan penyakit mental dan kejiwaan para pasiennya. Dia berargumen bahwa dikarenakan konstruksi manusia terdiri dari jasmani dan rohani, maka keberadaannya tidak bisa dikatakan sehat tanpa adanya keterjalinan (isytibak) antara jiwa dan badan. Lebih lanjut dia katakan: "Jika badan sakit, jiwa pun akan banyak kehilangan kemampuan kognitifnya dan tidak bisa merasakan kenikmatan hidup". Sebaliknya dia juga menjelaskan "Jika jiwa sakit, badan pun kehilangan keceriaan hidup dan bahkan badannya pun bisa jatuh sakit".

Pemikirannya tentang kesehatan mental, digalinya dari al-Qur'an dan Sunnah. Di antaranya adalah QS. 2:10, "Dalam hati mereka ada penyakit". Dan Sabda Nabi: "Ketauhilah! Sesungguhnya dalam badan manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka seluruh badannya akan baik. Tetapi jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badannya. Ketauhilah bahwa ia (segumpal daging) itu adalah kalbu". (HR. al-Bukhari)


Kitab Mashalih al-Abdan wa l-Anfus

Kitab ini membahas tema-tema yang berkenaan dengan kesehatan badan dan jiwa. Kitab Mashalih yang manuskripnya tersimpan di Istambul ini terdiri dari dua bab, yakni Mashalih al-abdan yang mencakup 14 bagian dan masalih al-anfus yang mencakup 8 bagian. Karya ini tergolong penting, mengingat ia adalah karya pertama yang membahas utuh masalah kesehatan. Di samping itu, tema pembahasannya sangat komprehensif, kaya nilai ilmiah dan sistematis.

Dalam penulisannya, al-Balkhi menggunakan metode deduktif (al-manhaj al-istidlali), kausalitas (sababiyyah), terapan, eksperimen dan metode instruksional. Penggunaan metode pembahasan yang integral dengan wahyu, terlihat jelas saat dia tidak hanya mencukupkan kajiannya pada fenomena alam secara empiris, tapi berlanjut pada pembacaan hikmah yang tersembunyi di baliknya. Menurutnya, Sunnatullah berlaku umum untuk semua makhluk-Nya. Dengan demikian al-Balkhi telah membawa teori integral yang disertai penjelasan faktor-faktor kausalitas tentang gangguan kejiwaan yang persis sama dengan karya-karya kontemporer.

Di antara nasehat al-Balkhi yang terkenal, "Kematian adalah keniscayaan, maka janganlah engkau takut padanya. Dan jika engkau takut apa yang akan terjadi setelah kematian, maka perbaikilah dirimu sebelum kematianmu. Takutlah akan kejahatanmu, bukan pada kematianmu!" (la budda minal maut, fa la takhaf minhu, wa in kunta takhaf mimma ba'dal mauti, fa ashlih sya'naka qabla mautika, wa khaf sayyiatika, la mautika).


Penulis: Elizabeth Diana Dewi, staf Direktorat Timur Tengah Deplu RI

Psikologi Dalam Islam

(Insist) Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa manusia. Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah bis-su’), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai (al-mutma’innah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun jasadnya hancur.

Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci. Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal (hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).

Hampir semua filsuf Muslim yang menulis karya tentang jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb ar-Ruhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa. Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri. Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya, Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan Avicenna’s Psychology, hlm 36-7).

Ketiga ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf. Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati’).

Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin. (Lihat juga: Amber Haque, “Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists,” Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77).

Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.

Penulis: Dr. Syamsuddin Arif

Jiwa Manusia Menurut Fakhruddin Al-Razi

(Insist) Imam Fakhruddin al-Razi (m. 1210 M) dikenal sebagai seorang ulama besar yang ensiklopedis, menguasai berbagai bidang keilmuan secara mendalam. Ia seorang mufassir al-Qur’an terkemuka. Ia juga pakar dalam bidang kedokteran, logika, matematika, dan fisika. Ia menulis kurang lebih dari dua ratus judul buku. Beberapa judul pun berjilid-jilid. Tulisannya tentang jiwa manusia terurai paling sedikit dalam tiga karyanya. Pertama, tentunya dalam Tafsir Besar-nya (al-Tafsir al-Kabir). Kedua, bukunya yang berjudul Kitab al-Nafs wa al-Ruh wa Syarh Quwahuma. (Buku Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua Potensinya). Ketiga, tulisannya yang lebih menukik, terdapat dalam magnum opus-nya (karya besar), yang berjudul al-Matalib al-’Aliyah fi al-’Ilm al-Ilahi (Kesimpulan-Kesimpulan Puncak dalam Ilmu Ketuhanan). Buku ini terdiri dari 9 jilid.

Dalam pandangan Fakhruddin al-Razi, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang unik. Keunikannya ada pada karakteristiknya yang khas. Manusia memang beda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Bagi Fakhruddin al-Razi, manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan hikmah serta tabiat dan nafsu. Ini membedakan manusia bukan hanya dengan binatang dan tumbuhan, tapi juga dengan malaikat. Dalam kajian psikologi Barat, perbandingan manusia dengan malaikat dan setan tentunya tidak ditemukan.

Menurut al-Razi, malaikat hanya memiliki akal dan hikmah, tanpa tabiat dan hawa nafsu. Karena itu, malaikat selalu ber-tasbih, ber-tahmid dan melakukan taqdis. (QS 16:50; 66:6: 21:21). Malaikat juga tidak akan mengingkari perintah Allah Ta’ala karena memang tidak memiliki hawa nafsu. Sebaliknya, binatang dan tumbuh-tumbuhan memiliki tabiat dan nafsu, namun tidak memiliki akal serta hikmah. Berbeda dengan malaikat, binatang dan tumbuh-tumbuhan, manusia memiliki kesemua karakteristik tersebut, yaitu akal, hikmah, tabiat dan hawa nafsu.

Karakteristik berbeda menyebabkan sifat juga berbeda. Bagi al-Razi, malaikat selalu memiliki kesempurnaan karena tidak punya hawa nafsu dan tabiat. Sebaliknya, binatang selalu memiliki kekurangan karena tidak punya akal dan hikmah. Nah, manusia ada di antara keduanya. Manusia memiliki akal dan hikmah, tapi manusia juga punya hawa nafsu dan tabiat. Karena ke-empat karakteristik tersebut, maka manusia memiliki sifat kekurangan dan kelebihan. Jika manusia menggunakan akal dan hikmah untuk mengatur hawa nafsu dan tabiatnya, maka manusia akan memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Dengan menggunakan akal -- dan hikmah yang bersumber dari ajaran agama -- untuk menundukkan hawa nafsu dan tabiatnya, maka manusia akan menjadi khalifah Allah di bumi, sekaligus akan menjadi makhluk yang paling mulia. Sebaliknya, jika tabiat dan hawa nafsu yang menguasai diri dan akalnya, maka ia akan lebih hina dari binatang, yang memang tidak punya akal dan hikmah.



Jiwa Manusia

Menurut Fakhruddin al-Razi, jiwa manusia memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah tingkat yang menghadap ke alam ilahi (al-sabiqun, al-muqarrabun). Tingkatan ini dapat diraih hanya jika manusia mau melakukan praktek spiritual (al-riyadiyah al-ruhaniah) dengan istiqamah. Tingkatan berikutnya adalah tingkatan pertengahan (ashab al-maymanah, al-muqtasidun). Untuk mencapai tingkat kedua ini, diperlukan ilmu akhlak (‘ilm al-akhlaq). Tingkatan paling rendah adalah jiwa manusia yang sibuk mencari kesenangan kehidupan duniawi, (ashab al-shimal, al-dhalimun).

Fakhruddin al-Razi juga menyatakan bahwa ada tiga jenis jiwa manusia. Pertama, al-Nafs al-Mutmainnah (al-Fajr, 89: 27), yaitu jiwa yang tenang, jiwa yang penuh dengan kehidupan spiritualitas dan kedekatan dengan Tuhan. Kedua adalah al-Nafs al-lawwamah (al-Qiyamah 75: 2). Ketiga adalah al-Nafs al-Ammarah bi al-su’ (Yusuf, 12: 53), adalah jiwa yang selalu mengarahkan manusia kepada keburukan.

Fakhruddin al-Razi membedakan jiwa dengan tubuh. Menurutnya, jiwa bukanlah struktur lahiriah yang bisa dilihat secara inderawi (Ghayr al-bunyah al-zahirah al-mahshushah). Fakhruddin al-Razi membuktikan pendapatnya dengan akal dan wahyu. Adapun bukti akal sebagai berikut. Pertama, jiwa adalah satu. Oleh sebab itu, jiwa berbeda dengan tubuh dan bagian-bagiannya. Bahwa jiwa adalah satu, dapat dibuktikan secara spontan dan intuitif (a priori) dan bisa juga dengan bukti empiris (a posteriori). Spontan, karena ketika seorang mengatakan “aku/saya”, maka “aku/saya” merujuk kepada satu esensi (zat) yang khusus, dan tidak banyak.

Jiwa bisa juga dibuktikan secara empiris, yang berbeda dengan tubuh dan bagian-bagian tubuh: (a) Jiwa bukanlah himpunan bagian-bagian tubuh karena penglihatan tidak menghimpun seluruh kerja tubuh. (b) Jiwa juga tidak identik dengan bagian dari tubuh karena tidak ada dari bagian tubuh yang meliputi semua kerja tubuh. (c) Jika kita melihat sesuatu, kita mengetahuinya, setelah itu menyukainya ataupun membencinya, mendekatinya ataupun menjauhinya. Jika penglihatan adalah sesuatu, dan pengetahuan adalah sesuatu yang lain, maka yang melihat tidak akan mengetahui. Padahal, ketika saya melihat, saya mengetahui. Jadi, esensi dari penglihatan dan pengetahuan adalah satu. (d) Semua bagian tubuh adalah alat untuk jiwa. Jiwa melihat dengan mata, berfikir dengan otak, berbuat dengan hati, merasa dengan kulit, dan seterusnya.

Lalu, apa ”jiwa” itu? Fakhruddin al-Razi menggambarkan hakikat jiwa sebagai substansi yang berbeda dengan tubuh. Jiwa juga terpisah secara esensial dengan tubuh. Namun jiwa terhubungkan dengan tubuh dengan hubungan kerja dan administrasi (dzat al-nafs jawhar mughayir laha mufariq ‘anha bi al-dhat muta’alliq biha tasarruf wa al-tadbir).

Setelah menyebutkan bukti-bukti akal, Fakhruddin al-Razi menyebutkan banyak ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa jiwa bukanlah tubuh. Firman Allah, misalnya, dalam Surah Ali Imran ayat 169 yang artinya: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS 3: 169). Jadi, jiwa bukan tubuh, karena sekalipun badan mereka telah gugur, namun jiwa mereka tetap hidup. Begitu juga disebutkan dalam al-Quran Surah Al-Mu’minun 40:46; Nuh 71: 25; Al-An’am: 93.

Pemikiran Fakhruddin al-Razi bahwa jiwa – dan bukan tubuh -- yang mengatur tubuh sangat penting untuk direnungkan. Kita mungkin banyak menghabiskan uang untuk berobat, merawat kesehatan badan, menjaga tubuh dengan membeli berbagai produk kesehatan dan kosmetika, dan membeli pakaian dengan berbagai merek, model dan bentuk. Jika tidak menghabiskan banyak uang untuk keperluan dan keinginan tersebut, setiap hari kita mandi untuk membersihkan tubuh kita. Namun, apakah jiwa yang justru mengatur tubuh kita juga dibersihkan, diobati, dirawat dan dihiasi? Manusia bisa saja memiliki tubuh bersih namun berjiwa kotor. Jadi, jiwa tidak selalu tergantung kepada penampilan tubuh. Kita berharap memiliki jiwa yang sehat dengan tubuh yang sehat. Jiwa yang tenang akan dapat diraih dengan mempelajari serta mengamalkan ibadah dan akhlak secara berkelanjutan. Inilah jiwa yang sehat, jiwa yang selalu mengingat Allah dan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Prof. Dr. Malik Badri: Psikologi Modern Tidak Netral

(Insist) Lebih dari setengah abad menggeluti psikologi modern, pakar bernama lengkap Malik Babikir Badri ini dikenal luas lewat bukunya The Dilemma of Muslim Psychologists. Ketidakselektifan psikolog muslim, menurutnya, telah menyebabkan mereka mengikuti pola pikir dan pendekatan kaum Yahudi dan Kristen, meskipun cara itu berkualitas rendah dan tidak islami. Persis seperti dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadis: “… bahkan jika mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, orang Islam tanpa pikir panjang akan mengikutinya.” Yakni mengambil bulat-bulat psikologi Barat modern dan menerapkannya di dunia Islam.

Prof. Malik Badri lulus dari American University of Beirut tahun 1956, meraih doktor dari Universitas Leicester, Inggris 1961, dan mengantongi gelar profesor sejak 1971. Namanya tercatat sebagai Fellow dan Chartered Psychologist, British Psychological Society, anggota dewan pakar UNESCO, dan pendiri sekaligus presiden International Association of Muslim Psychologists. Kini ia tercatat sebagai pengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia.
Di tengah beragam kesibukannya, pria asal Sudan kelahiran 16 Februari 1932 dan ayah tujuh anak ini, Senin (7/9) petang lalu menerima wartawan Islamia, Dr. Syamsuddin Arif, di kantornya, di kampus Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) Gombak, Kuala Lumpur.

Apa yang melatari Anda menjadi ahli psikologi?
Awalnya saya ingin kuliah bidang farmasi. Namun, setelah mengambil mata kuliah psikologi, minat saya berubah. Apalagi waktu itu – tahun 1950-an -- psikologi sebagai disiplin tersendiri sama sekali belum dikenal. Di negara-negara Arab ketika itu psikologi hanya diajarkan sebagai cabang dari ilmu pendidikan. Kemudian secara pribadi sebagai Muslim saya juga tertarik untuk memahami ajaran agama saya terutama yang berkaitan dengan sains modern. Saya pikir, orang Islam harus belajar psikologi agar bisa menanggulangi berbagai krisis sosial yang diimpor dari Barat. Dua hal itulah yang mendorong saya untuk menekuni psikologi.

Banyak yang bilang gagasan ‘psikologi Islam’ itu omong kosong. Pendapat Anda?
Hemat saya, orang yang berpendapat seperti itu sesungguhnya tidak paham psikologi dan tidak tahu Islam. Ia tidak mengerti kedua-duanya. Kalau di Barat sendiri sekarang ini hampir tidak ada ahli psikologi yang mengingkari adanya ‘psikologi Islam’. Anehnya yang mengatakan tidak ada ‘psikologi Islam’ itu justru orang Islam yang masih yakin bahwa sebagai sebuah sains, psikologi itu netral. Padahal, para psikolog Barat saat ini mulai menyadari bahwa ilmu psikologi yang berkembang di Barat selama ini sesungguhnya terkait erat dengan nilai-nilai budaya mereka (culture-bound).

Artinya, psikologi Barat itu produk orang Barat dan untuk kebutuhan masyarakat Barat. Bahkan ahli-ahli psikologi di Inggris dan Perancis sekarang ini mulai mengeluhkan betapa kentalnya pengaruh kultur Amerika dalam psikologi kontemporer. Karena buku-buku rujukannya karangan psikolog-psikolog Amerika, maka mahasiswa Inggris dan Perancis sesudah lulus pun ikut-ikutan corak dan gaya psikologi Amerika. Padahal psikologi Amerika itu dasarnya adalah eksperimen terhadap binatang seperti tikus, monyet, kelinci, burung merpati dan mahasiswa yang kesimpulannya belum tentu berlaku untuk manusia atau konteks budaya di tempat lain. Itulah sebabnya sejak lama orang-orang Rusia menolak psikologi Amerika seraya membangun psikologi Rusia yang lebih sesuai dengan dan untuk orang Rusia. Mereka berupaya membuat teori-teori baru dan eksperimen tersendiri, seperti yang dilakukan Ivan Pavlop pada tahun 1960-an. Kritik terhadap psikologi modern yang sekular juga banyak dilontarkan oleh kalangan Katolik di Barat. Makanya, bagi saya, aneh kalau orang Islam masih menelan bulat-bulat psikologi dari Barat.

Bisa Anda jelaskan apa yang salah dengan psikologi modern?
Psikologi modern dibangun diatas asumsi-asumsi yang keliru tentang manusia. Apa hakikat manusia? Jawaban kepada pertanyaan inilah yang mendasari pelbagai teori psikologi tentang kepribadian. Misalnya teori Sigmund Freud yang mengajarkan bahwa manusia hanyalah hewan yang bertindak atas dorongan-dorongan seksual-agresif dari bawah-sadarnya. Dari sini ia membangun psikoterapinya. Cara mengobati orang sakit jiwa ialah dengan membawa si pasien keluar dari bawah-sadar ke alam sadarnya.

Ada juga Watson, yang menganggap manusia tak lebih dari hewan yang perilakunya ditentukan sepenuhnya oleh lingkungan. Mereka ini tidak percaya akan wujudnya jiwa. Maka fokusnya hanya lingkungan. Bagaimana mengubah perilaku manusia dengan mengubah lingkungannya. Apakah Anda kira konsep mereka tentang manusia itu diperoleh dari penelitian di laboratorium? Tidak. Semua itu sebenarnya hasil reka-reka semata. Nah, sebagai Muslim, Anda tentu tidak bisa menerima pandangan-pandangan semacam itu. Konsep Islam tentang manusia kan lain. Maka psikologi kita pun mestinya berbeda.

Yang Anda maksud dengan ‘dilemma psikolog Muslim’ itu apa?
Buku itu asalnya makalah yang saya tulis untuk pertemuan ikatan ahli ilmu sosial muslim Amerika tahun 1976. Judulnya “Muslim psychologists in the Lizard's hole” (psikolog muslim dalam lubang biawak) yang kemudian diterbitkan di Journal of Muslim Social Scientists, sebelum saya kembangkan menjadi buku. Yang ingin saya tegaskan ialah psikologi itu wilayah yang sangat luas, dimana hanya beberapa keping saja layak disebut sains, seperti neuropsikologi, psikofarmasi, psikokimia dan sebagainya. Sementara sebagian besarnya lebih tepat disebut sebagai ’pseudo-science’ – meminjam istilah psikolog kawakan Sigmund Koch. Ini penting diketahui oleh psikolog muslim, terutama ketika mengajar mahasiswa. Kita mesti selektif, pandai memilah dan memilih mana yang berguna dan mana yang bermasalah. Saya tidak mengatakan bahwa semua teori psikologi modern harus dibuang. Misalnya, kita jelas menolak asumsi psikologi behavioristik bahwa manusia itu hewan belaka. Tetapi terapi behavioristik yang menekankan pentingnya imbalan dan ganjaran boleh saja kita terapkan. Namun sebagai muslim alangkah baiknya kalau diikuti juga petunjuk dan tuntunan Islam dalam menangani penderita. Disinilah perlunya psikolog muslim juga memiliki wawasan keilmuan Islam yang memadai.

Pandangan Anda mengenai Islamisasi psikologi?
Saya punya dua teori tentang Islamisasi. Pertama, yang saya namakan “Islamisasi A”, ialah bagaimana kita mengubah orang menjadi Muslim yang lebih baik. Adapun “Islamisasi B” ialah bagaimana menjadikan psikologi sebuah ilmu yang sesuai dan bermanfaat bagi umat Islam. To use Islam to help Muslims.

Apa yang mesti dilakukan untuk membangun psikologi Islam?

Membangun psikologi Islam tidak semudah membalik telapak tangan. Ia memerlukan kerja kolektif yang serius dan makan waktu lama. Prosesnya terdiri dari tiga tahap. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengkaji secara intensif karya-karya ilmuwan Muslim tentang jiwa manusia. Saya sendiri baru saja menyelesaikan sebuah buku tentang psikologi kognitif menurut al-Balkhi. Dalam hal ini saya tidak sependapat dengan sikap kalangan tertentu yang mencemooh kajian khazanah klasik. Sebab, kalau Anda perhatikan, orang-orang Barat sendiri selalu kembali kepada pemikir silam semisal Plato dan Aristotle dan membanggakan tokoh-tokoh dari kalangan mereka kepada mahasiswanya. Nah, semestinya kita juga mengenalkan para ilmuwan Muslim kita kepada mahasiswa dan masyarakat kita.Tahap berikutnya, setelah kajian-kajian semacam itu dilakukan, mulailah sedikit demi sedikit membangun psikologi kita sendiri –psikologi yang berangkat dari kebutuhan dan worldview kita sebagai Muslim. Dan ini perlu dilakukan dengan sikap “seolah-olah psikologi Barat itu tidak ada sama sekali” (forgetting the Western psychology, as if there is no psychology at all!). Nah, sesudah itu baru kita coba gagas teori-teori dan metode-metode baru untuk riset dan terapi. Jadi, psikologi Islam itu bukan sekadar justifikasi ilmu Barat dengan dalil-dalil al-Qur’an dan Hadis. (***)

Jumat, 06 Januari 2012

24 Protokol

24 Protokol Zionis (Yahudi) / Protocols of Zion 



Link Download : http://www.mediafire.com/?x42y4jmxx2v0qj9

Dokumen “Protocols of Zion” yang sudah lama menjadi ‘kitab suci’ Zionisme Internasional, selama ini dipahami sebagai sumber inspirasi kaum Yahudi untuk menata dunia sesuai dengan keinginannya, yaitu dunia yang pada akhirnya hanya beragama satu, agama Yahudi. Inti ajaran agama Yahudi adalah pemujaan materi atau dikenal dengan istilah materialisme. Protokol itu pertama kalinya dibuat tahun 1895 di Basel-Swiss oleh pemimpin Zionis saat itu, Theodore Hertzel. Dokumen itu berisi 24 pasal (24 protocols). Tadinya sangat dirahasiakan sekali, tapi kemudian bocor dan sampai ke tangan pendeta orthodox Rusia, Sergey Nylos, yang menterjemahkan ke dalam bahasa Rusia pada tahun 1921. Seorang wartawan Inggris,Victor E. Mersden, kemudian menterjemahkannya kembali ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Protocols of the Learned Elders of Zion” pada tahun 1917.


PROTOKOL KE-1:
Semboyan kita (kita disini maksudnya: Zionisme/warga Yahudi sedunia, -pen.) hanya ingin mencapai tujuan dengan kekuatan militer, kecanggihan teknologi perang, dan memasyarakatkan hidup bersenang-senang mengejar popularitas. Pandangan hidup kita hanyalah mampu menindas terlebih dahulu, kemudian bertanggung-jawab dalam suatu persoalan, atau berbuat jahat dan memasang jerat halus demi kepentingan kita

Kita pembuka jalan falsafah kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan yang menjadi topik aktual sepanjang masa (kini falsafah itu dikenal dengan istilah ‘demokrasi’, -pen.). Mereka yang menjunjung falsafah itu sebenarnya belum berfikir secara matang dan dewasa. Falsafah itu sebenarnya tidak bernilai, dan banyak masyarakat kaum awam yang terkecoh, dan tidak menyadari bahwa pengertian falsafah itu sebenarnya masih rancu dan diliputi oleh awan gelap.

Kata-kata itu telah diulang berkali-kali, dan mereka tertarik dengannya padahal telah menghancurkan kemakmuran dunia dan kebebasan perorangan yang sesungguhnya. Orang-orang non-Yahudi yang dianggap sebagai orang pandai dan berfikiran cerdas tidak memahami simbolisme yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkannya itu; demikian pula mereka tidak melihat pertentangan yang terkandung di dalamnya, dan tidak pula menyadari bahkan di alam bebas tidak terdapat arti kata persamaan dalam bentuk apapun juga.

Slogan kita berupa kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan yang kita kumandangkan hanyalah jerat halus untuk menangkap mangsa dan sebagai sarana yang dapat menarik orang mendukung perjuangan kita dari seluruh pelosok dunia. Falsafah itu mampu membingungkan para pemimpin Kristen. Pada suatu saat falsafah itu mampu mematahkan tangga dan merontokkan persatuan.

Dari sisi lain, falsafah itu akan menggulingkan kubu-kubu bangsawan non-Yahudi, yaitu kubu yang dipakai tempat perlindungan masyarakat yang hidup di atas planet bumi ini.


PROTOKOL KE-2:
Kita harus berusaha sekuat tenaga agar pertempuran yang terjadi antara dua negara tidak menjalar ke negara lain. Sehingga peperangan itu masih bisa dikendalikan, agar pihak kita dapat menguasai.

Disamping itu pihak yang bertempur selalu membutuhkan bantuan dari kita. Kita harus mengangkat orang yang tidak berpengalaman luas dalam pemerintahan, agar mudah diatur untuk diarahkan ke tujuan tertentu. Kita membutuhkan opini publik melalui surat-surat kabar (koran, -ed.) kepada orang-orang non-Yahudi.

Ideologi kita kini telah berhasil dengan gemilang. Kemenangan ideologi kita melalui otak Darwin, Karl Marx, Adam Smith, dan Nitche. Pandangan pikiran mereka mampu menggoyahkan ketenangan masyarakat dunia.

Bagi orang yang tak menjalankan ajaran agama, ideologi semacam ini mudah diterima. Surat kabar sebagai senjata utama, kini berada di tangan kita. Walaupun demikian kita harus bergerak di bawah tanah.

PROTOKOL KE-3:
Kini beban kita tinggal menerobos terowongan yang pendek, setelah itu daerah yang dikuasai oleh ular (lambang ‘Freemasonry’, organisasi bawah tanah dari gerakan Zionisme Internasional, -pen.) akan kita kunci. Bila sudah dikunci, berarti semua benua Eropa akan tergenggam dalam tangan kita.

Kita harus mempertajam ketegangan pemerintah dengan rakyat. Agar wibawa pemerintah menjadi lemah dan rakyat pun tidak memiliki daya untuk bertindak, kemudian kita akan mudah menguasai keduanya sesuai dengan tujuan kita.

Kita harus mampu memberikan semangat agar para aktifis partai saling berebut kursi pemerintahan.

Kita harus mampu memberikan nasihat kepada kaum buruh dan pekerja seakan-akan memperoleh prioritas yang memuaskan dari kebijakan dan undang-undang yang tertulis di atas kertas. Padahal tulisan itu hanyalah kebohongan belaka. Dengan demikian agen-agen Yahudi akan kita kirim untuk mengatur roda perusahaan sesuai tujuan kita.

Kita harus mampu meningkatkan rasa benci dan dengki di kalangan buruh untuk meledakkan kemelut perekonomian dunia. Sarana yang tepat untuk menciptakan situasi seperti itu adalah emas yang telah kita genggam.

Kita harus mampu menanamkan rasa benci di hati kaum buruh agar tetap bermusuhan dengan orang kaya sejak kecil.

Untuk merealisasikan program itu, kita tidak akan terbentur oleh bahaya, lantaran masyarakat Kristen yang sudah lemah akan mudah dikuasai, terutama menguasai pemerintah yang akan membinasakan Yahudi dari muka bumi ini.

PROTOKOL KE-4:
Gerakan ‘Freemasonry’ akan melaksanakan tujuan-tujuan kita ini, dan sebagai penghalang bagi siapa saja yang akan membongkar program kita.

Gerakan ‘Freemasonry’ akan mampu menghapus keyakinan ber-Tuhan di tengah masyarakat Kristen, dan diganti dengan teori matematika dan teori relativitas (Einstein, -ed.).

Kita harus berani mengarahkan orang-orang Kristen agar pikirannya hanya ke arah persaingan ekonomi dan industri. Situasi seperti itu diupayakan semakin tajam, agar terwujud masyarakat yang individualistis. Sehingga mereka akan apatis terhadap perjalanan politik, agama, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Mereka hanya mengurus tenaga dan memeras otak demi mendapatkan harta. Dengan demikian mereka bergelimang dengan kehidupan materialisme dan mengabaikan ajaran-ajaran agama (kini giliran orang-orang Muslim karena orang-orang Kristen sudah ditaklukkan, -pen.).

Paham liberal (liberalisme) harus kita sebarkan ke seluruh dunia agar pengertian mengenai arti kebebasan (liberal) itu benar-benar menimbulkan dis-integrasi dan menghancurkan masyarakat non-Yahudi. Maka industri harus dilandaskan atas dasar yang bersifat spekulatif.

PROTOKOL KE-5:
Kita harus mencemarkan nama pendeta dan ulama. Agar keduanya dipandang hina oleh gelandangan di pinggir jalan.

Ada suatu langkah yang mampu membikin opini umum, yaitu kita harus mengajukan berbagai pandangan yang dapat menggoyahkan keyakinan-keyakinan sebelumnya yang sudah tertanam di hati dan pikiran masyarakat. Kalau usaha ini belum mendapatkan perhatian, maka masyarakat harus diberikan pandangan lagi yang secara sosial dapat diterima.

Dengan cara ini, keyakinan lama yang sudah tertanam di hati manusia akan tergoyahkan, dan pada akhirnya akan tumbang, lantaran terdepak oleh perkembangan zaman. Pada akhirnya pendapat dan pandangan yang tidak searah dengan tujuan Yahudi (yaitu menjadikan ummat manusia hanya memuja materi, -pen.) akan musnah, dan dunia akan jatuh ke dalam perangkap kesesatan.

Kita harus mampu membuka jalan agar kebobrokan mental manusia semakin bertambah dan adat-istiadat porak-poranda. Dengan demikian perpecahan antar kelompok masyarakat akan terjadi di mana saja. Segala kekuatan yang melawan Yahudi akan lenyap. Segala semangat akan luntur. Akhirnya faktor yang memberikan kemenangan kepada pihak kita akan nampak.
Kita harus mengendalikan masyarakat Kristen dalam kondisi yang semakin rumit dan norma-norma sudah tidak dijunjung tinggi oleh masyarakat. Setelah itu mereka akan meminta kita memimpin dalam memasuki gerakan dunia. Bila posisi ini sudah kita raih, maka seluruh kekuatan pemerintah di dunia akan mudah diarahkan. Dari sini akan terwujud pemerintahan Internasional tertinggi yang kekuasaannya meliputi seluruh dunia. Lembaga ini secara fungsional mempunyai peraturan yang berwibawa dan dipatuhi oleh seluruh umat manusia di dunia.

PROTOKOL KE-6:
Kita harus mampu mengatur penimbunan kekayaan yang amat besar yang dimiliki oleh orang-orang non-Yahudi. Administrasinya harus dapat mengikis habis kekayaan itu secara berangsur-angsur. Kita harus menggunakan segala cara agar lembaga pemerintah Internasional (semacam PBB, IMF, World Bank sekarang ini, -pen.) memiliki daya polularitas yang tinggi, sehingga dikenal oleh seluruh umat manusia yang hidup di dunia ini. Diusahakan agar bangsa yang patuh kepada lembaga ini merasa memperoleh perlindungan yang terjunjung tinggi harkat bangsanya.

Kini segala keningratan (kemuliaan, -ed.) non-Yahudi telah punah, tinggal sektor pertanian. Walaupun begitu sektor pertanian tidak boleh diabaikan. Sebab tuan tanah sendiri bisa hidup merdeka dari genggaman kita. Oleh karena itu, kita harus berjuang untuk membebaskan tanah itu dari miliknya. Barangkali cara yang tepat adalah pajak dan biaya pengolahan tanah pertanian harus menanjak. Dengan demikian, tuan tanah akan berfikir seribu kali untuk menanam lagi. Jika situasi seperti itu berjalan terus, maka mereka akan segera menjual tanah itu. Kita harus berani memberikan semangat kepada masyarakat agar senang berfoya-foya dan malas. Tindakan ini akan mengakibatkan kebangkrutan bagi perusahaan dan pabrik non-Yahudi.

Kita harus membentuk persaingan tajam dalam perdagangan (ciri utama ekonomi liberal, -pen.). Kita harus berani berusaha menaikkan gaji kaum buruh untuk menipu mereka. Dalam waktu yang sama kita harus menaikkan harga barang-barang pokok. Dengan dalih hasil panen mengalami penurunan. Kita harus berani mendorong kaum buruh untuk menenggak minuman keras agar produksi pabrik menurun drastis.

PROTOKOL KE-7:
Kita harus berani mendorong masyarakat Eropa dan selalu membantu menyebarkan isu buruk dan berbau permusuhan dengan penduduk yang tinggal di benua lain. Kebijaksanaan ini memberikan dua keuntungan bagi kita. Sebab, mereka mengetahui bahwa kita mampu melahirkan revolusi atau membuat peraturan sesuai dengan kehendak mereka. Bila ada pemerintah yang ingin menghambat tujuan kita, maka diupayakan negara tetangganya merasa terancam, pada akhirnya mengakibatkan peperangan dua negara. Apabila dua negara bersatu untuk menghancurkan kita, maka kita harus berani menyatakan perang dunia.

Agar segala rencana dapat dicapai, maka kita harus mampu membentuk opini masyarakat dunia. Tampaknya hal itu mudah kita capai, karena sarana yang paling efektif telah kita kuasai, yaitu: surat kabar/koran yang setiap hari terbit dengan oplah (penjualan, -ed.) yang besar (dan kini ditambah stasiun TV, kantor berita, internet, -pen.).

Untuk menunjukkan kekuatan kita, maka salah satu negara harus diserbu dengan gerakan teroris dan tindakan-tindakan keji. Jika bangsa lain mengetahui kekuatan kita, maka Yahudi akan ditakuti oleh seluruh bangsa. Jika ada bangsa yang ingin melawan kita, maka akan kita gempur dengan senjata buatan Amerika dan buatan negeri lain yang menjadi sekutu kita.

PROTOKOL KE-8:
Pemerintah kita harus memahami bahwa kebudayaan suatu bangsa mempunyai peranan yang amat penting. Oleh karena itu, pemerintah harus mampu menghimpun orang-orang senior seperti pengarang, ahli hukum, eksekutif, politikus, administrator yang telah lama duduk di sekolah kita dan telah ditempa dengan dokrin Yahudi.

Para sarjana yang telah lulus universitas kita (universitas dengan kurikulum berbasis dokrin Yahudi, -pen.) akan diterima dengan kewajiban ikatan kerja, yang penting biaya hidup mereka terjamin.

Pemerintah kita harus mampu menguasai sarjana ekonomi yang memiliki wawasan politik. Karena politikus yang ekonom memegang peranan penting dalam perjuangan kita. Kita berupaya agar kursi (kekuasaan) diduduki oleh orang yang tidak disegani oleh masyarakat. Minimal orang itu mempunyai perangai yang kurang baik sehingga rakyat akan mudah marah kepadanya, dan keduanya dapat kita kuasai.

PROTOKOL KE-9:
Kita harus dapat menguasai pejabat-pejabat non-Yahudi yang mengatur administrasi, untuk dirombak sebagaimana yang kita harapkan. Selain itu harus menempatkan orang-orang kita dalam lembaga pengatur negara. Kita berusaha agar administrasi suatu negara berjalan timpang. Kita banyak mendudukkan wakil-wakil dalam tubuh legislatif (pembuat keputusan, misalnya DPR/MPR, -ed.), dan ikut serta dalam pemilihan umum.

Kita harus mampu mengarahkan misi surat kabar, disamping menguasai departemen pendidikan. Karena pendidikan merupakan tonggak terpenting dalam kehidupan yang merdeka. Kini aktivis kita harus mampu menodai masa depan generasi mendatang dan mencemari generasi sekarang. Kita harus memberikan pelajaran pada generasi masa kini dengan pandangan-pandangan yang mengandung unsur merusak citra bangsa. Sebagian orang menanyakan: “Apa yang harus kita lakukan, bila ada yang mengetahui program kita yang ingin merusak citra bangsa!” Jawabnya: Kita harus merahasiakan rencana itu dan dalam menyalurkan ke masyarakat harus dengan penuh perhitungan. Tetapi jika ada yang terjadi di luar perhitungan kita, kita pun sudah mempersiapkan diri dengan kekuatan militer dan alat-alat tempur yang canggih. Pada suatu saat kita akan menyerbu dengan kekuatan yang mampu menggetarkan lawan yang menghadapi kita. Untuk menghadapi perlawanan semacam itu kita mempersiapkan terowongan di bawah tanah yang akan digunakan untuk meledakkan seluruh kota di dunia, termasuk dokumen-dokumen akan hangus.

PROTOKOL KE-10:
Kita harus memecah-belah keluarga masyarakat non-Yahudi dan menghapus adat-istiadat serta kebudayaan mereka. Kita berusaha untuk memperoleh setiap sarjana dan cendekiawan agar mau bergabung dengan barisan kita. Kita harus dapat mendirikan pemerintahan otokrasi (sewenang-wenang, -ed.) yang mudah diatur menurut haluan kita. Hal itu bisa dijangkau apabila seluruh lembaga baik legislatif , eksekutif, maupun yudikatif dipegang oleh orang-orang yang tidak segan-segan menerima uang siluman (suap/KKN, -ed.). Kepemimpinan tertinggi akan dipegang oleh agen-agen kita yang mampu menjalankan pemerintahan sesuai dengan petunjuk kita.

PROTOKOL KE-11:
Tuhan telah menghendaki keturunan Israel sebagai petualang dunia yang hidup di berbagai negara. Kalau dipandang sepintas, hal itu merupakan sisi kelemahan Israel. Namun petualangannya harus dimanfaatkan untuk memperkokoh posisi kita dan dijadikan sebagai jembatan emas untuk menduduki singgasana kerajaan dunia. Pesta-pesta yang diadakan oleh gerakan ‘Freemasonry’ merupakan tempat komunikasi antara kelompok-kelompok kita (yayasan ‘Lions Club’ dan ‘Rotary Club’ di seluruh dunia dikendalikan oleh orang-orang ‘Freemasonry’ ini, -pen.).

Kita bagaikan singa (bukankah ‘Lions Club’ berarti ‘klub para singa’?, -pen.) dan orang-orang non-Yahudi laksanan kelompok biri-biri. Bila singa memasuki kandangnya, biri-biri hanyalah bisa memejamkan matanya dan menerima nasib malangnya.

PROTOKOL KE-12:
Dominasi kita harus merambah surat kabar yang membawa misi partai. Selain itu kita harus mampu mengontrolnya sebelum berita itu diedarkan, agar tidak mengungkap misi kita. Segala berita yang akan disiarkan lewat radio harus melalui pengawasan kita. Buku-buku berbobot harus dikenakan pajak yang tinggi, sedangkan buku murahan tidak dikenakan pajak, agar para sarjana enggan menulis buku.

Perusahaan surat kabar akan kita beli untuk mengimbangi dan menjawab isi surat kabar independen yang lepas dari genggaman kita (kini tentu tak sebatas surat kabar, tapi meliputi pula: stasiun TV, kantor berita, majalah, dan website terkenal di internet, -pen.).

PROTOKOL KE-13:
Kita harus berusaha agar opini umum (masyarakat, -ed.) tidak mengetahui permasalahan sebenarnya. Kita harus menghambat segala yang mengetengahkan buah pikiran yang benar. Hal itu bisa dilakukan dengan memuat berita lain yang menarik di surat kabar. Agen-agen kita yang menangani sektor penerbitan akan mampu mengumpulkan berita semacam itu. Pandangan masyarakat harus kita alihkan kepada hiburan (dunia entertaiment/selebritis, -pen.), seni, dan olah raga.

PROTOKOL KE-14:
Diupayakan di dunia ini hanya satu agama, yaitu agama Yahudi (inti ajaran agama Yahudi adalah pemujaan materi atau paham materialisme, -pen.). Oleh karena itu, segala keyakinan lainnya harus dikikis habis. Kalau dilihat di masa kini, banyak orang yang menyimpang dari agama. Pada hakekatnya kondisi seperti itulah yang menguntungkan Yahudi. Di masa yang akan datang masyarakat dunia akan berduyun-duyun memasuki agama Musa yang menundukkan mereka berada di bawah telapak kaki Yahudi. Pada saat itu, suara kritikan hanya tertuju kepada agama selain Yahudi. Orang tak akan berani menelanjangi agama kita. Karena rahasia yang terkandung dalam ajaran agama Yahudi sangat dalam, dan ajarannya selalu diperjuangkan oleh pendeta-pendeta kita. Segala karya tulis yang mengkritik agama kita tidak diperkenankan terbit dan tersebar di masyarakat. Kita terus berjuang menyebar-luaskan tulisan sastra picisan di masyarakat negara adidaya (contohnya sekarang ini novel Harry Potter, -pen.).

PROTOKOL KE-15:
Agen-agen rahasia kita harus disebar ke seluruh dunia. Mereka adalah anggota organisasi di bawah tanah dan gerakan ‘Freemasonry’. Bila bisa berjalan dengan baik, kita akan mempunyai polisi rahasia yang bergerak ke seluruh penjuru dunia. Dari mereka kita mendapatkan data-data akurat untuk mengatur segala persoalan yang penting. Kita harus sering mengadakan pertemuan anggota ‘Freemasonry’ sebelum memegang kekuasaan yang sempurna. Setelah berkuasa, kita akan mampu memusnahkan semua gerakan non-Yahudi dengan cara licin sehingga orang tidak akan menuding kita.

PROTOKOL KE-16:
Kita harus berani tampil di tengah masyarakat dan berjuang memimpin universitas yang ada sekarang. Setelah itu, penulisan sejarah akan kita tinjau kembali, dan menyisihkan sejarah yang menghujat nama bangsa Yahudi. Kritikan dari orang non-Yahudi tidak begitu bahaya, tetapi yang perlu diwaspadai adalah pendidikan yang berjalan dengan kurikulum mereka sendiri (bukan meniru kurikulum kita). Maka usahakan pendidikan semacam itu harus dilenyapkan. Bila tidak mampu, ia harus dikucilkan dari masyarakat. Segala macam yang melambangkan kemerdekaan berpendapat harus dilenyapkan, walaupun slogan itu pernah kita gunakan untuk meraih tujuan. Kita telah meletakkan program untuk menarik simpati masyarakat dengan memberi pelajaran empiris nyata (contohnya kurikulum berbasis kompetensi SD-SMA di Indonesia sekarang, -pen.), dan membuang pelajaran yang bersifat non-empiris (misalnya pendidikan budi pekerti, -pen.). Pelajaran ini amat sistimatis agar kaum pelajar tidak mampu berfikir luas, dan tidak mampu memecahkan persoalan tanpa bantuan orang lain. Jadi mereka bagaikan binatang ternak, yang dapat digiring menurut kehendak penggembala. Mereka hanya mentaati penjelasan dari guru tanpa berusaha untuk mendalaminya. Sistem ini telah berhasil kita suntikkan dalam sekolah di negeri Prancis, yang ditangani oleh aktivis yang bernama Bouro.

PROTOKOL KE-17:
Kita selalu dituntut untuk mencemarkan nama baik pendeta dan ulama non-Yahudi, agar mereka terhina di mata rakyat. Dengan usaha ini dapat mengurangi misi perjalanan mereka yang menghambat perjuangan kita. Bila ada peluang yang baik, istana Paus akan kita runtuhkan dengan memakai orang lain yang akan menembak Paus di Vatikan. Bila ini terjadi, para penduduk dunia akan berduyun-duyun ke Vatikan, dan kita akan tampil seolah-olah menjadi pelopor penuntutan terhadap pelaku pembunuhan itu (usaha pembunuhan Paus pernah dilakukan tahun 1981, tapi gagal, -pen.). Cara seperti itu agar kita yang akan menduduki singgasana Paus. Dan Yahudi akan menjadi Paus sejati dan kepala uskup Gereja Internasional.

PROTOKOL KE-18: 
Di saat polisi menjaga keamanan negara dengan ketat, kita harus mampu mengadakan kerusuhan dan keonaran di masyarakat (departemen kepolisian di seluruh dunia selalu memperoleh bantuan Zionis Internasional untuk mendukung tujuan mereka, -pen.). Kemudian para penceramah diorganisir untuk menerangkan keadaan yang genting itu. Di saat itu kita dapat menemukan jalan keluarnya, sehingga masyarakat simpati kepada kita. Kebijaksanaan seperti ini akan kita gunakan secepatnya untuk memberikan perintah agar penjagaan semakin ditingkatkan. Peluang ini kita pakai untuk mengkoordinir para pendukung kita untuk mendapatkan tujuan.

PROTOKOL KE-19:
Politikus yang kita tangkap diusahakan tidak dianggap sebagai pahlawan, tetapi martabat mereka kita samakan dengan penyamun, pencoleng, pembunuh, dan narapidana berat lainnya. Usahakan masyarakat menyamakan narapidana politik dengan kriminil agar masyarakat menilai jelek para politikus.

PROTOKOL KE-20:
Kita harus berusaha agar bantuan (utang) luar negeri seakan-akan bantuan dalam negeri. Agar kekayaan negara yang utang akan terus mengalir ke perbendaharaan (kas) kita. Akal hewan bangsa non-Yahudi tidak akan mengerti bahwa utang kepada negara kapitalis akan menguras kekayaan negaranya sendiri. Sebab, bunga utang itu akan diambil dari hasil bumi negaranya atau masukan keuangan lainnya. Sekarang kita telah menguasai kekayaan dunia dengan jalan memegang saham surat-surat berharga lainnya (inilah alasan pemaksaan dibukanya Pasar Modal dan Pasar Uang di negara-negara yang berhasil mereka “liberalisasikan ekonominya”, -pen.). Kita akan membentuk pemerintah yang memiliki utang agar terus membutuhkan bantuan dari bank kita, sehingga pemerintah negaranya akan tergenggam oleh kaum kapitalis.

PROTOKOL KE-21:
Kita akan mendukung pemerintahan di seluruh dunia dengan sejumlah besar ahli di bidang ekonomi. Itulah sebabnya ilmu pengetahuan ekonomi merupakan ilmu utama yang diajarkan oleh orang Yahudi (hampir di seluruh negara di dunia, fakultas ekonomi selalu saja jumlahnya melebihi jumlah fakultas ilmu sosial dan eksakta yang ada. Dan pelajaran ekonomi di SMA selalu memiliki bobot materi yang paling lengkap dibanding mata pelajaran lainnya, tak terkecuali di Indonesia saat ini, -pen.). Kita akan dibantu oleh bankir, industrialis, kaum yang bermodal, dan terutama para milyuner yang tak terhitung banyaknya. Karena segala sesuatu diatur dengan angka yang pasti.

PROTOKOL KE-22:
Emas selalu memegang peranan terpenting, dan sekarang kita telah menguasainya dengan melewati beberapa usaha yang lama dan telah melintasi beberapa generasi. Oleh karena itu, senjata ini harus mampu memainkan peranannya untuk menggapai tujuan kita dalam rangka menguasai dunia.
Untuk membentuk perdamaian di atas planet ini, perlu menggunakan sedikit kekerasan, yang semuanya dapat dilaksanakan di bawah panji-panji Zionisme.

PROTOKOL KE-23: 
Mula-mula yang kita lakukan untuk memperkokoh kekuatan kerajaan kita, yaitu harus melenyapkan yayasan dan organisasi yang dulu bergerak untuk membela kita. Sebab bila ia dibiarkan, akan menjadi membahayakan kerajaan kita.

Kerajaan Israel akan menjadi kokoh atas kehendak Allah. Langkah pertama untuk menegakkan kerajaan itu adalah membasmi pikiran orang yang tidak berwawasan luas. Walaupun mereka dulu pernah dipakai (sebagai) tangga untuk mencapai tujuan kita yang mulia.

PROTOKOL KE-24:
Orang yang mengatur kerajaan kita harus dari keturunan Dawud (David), disamping tokoh-tokoh dari Zionis. Orang tersebut harus memiliki otak cemerlang, mampu mengendalikan hawa nafsunya, bisa bergaul dengan rakyat, bersih dari noda, berani berkorban untuk memenangkan kepentingan rakyat, lambang kejayaan, tangguh, dan kharismatik (figur dimaksud, dalam keyakinan ummat Islam disebut Dajjal, -pen.).







(Sumber: http://nazri-hamezah.blogspot.com/ Judul asli: 24 protokol yahudi Tanggal: Monday, March 20, 2006. Nama: mohd nazri, Lokasi: Kota Bharu, Kelantan, Malaysia).

Mengungkap Doktrin Yahudi Dalam Ilmu Psikologi

Psyche Sebuah Warisan Kaballah: Membongkar Teologi Yahudi dalam Pencetusan Ilmu Psikologi
Mengapa kita harus terkejut ketika diberi fakta bahwa inti pelajaran-pelajaran di sekolah kita 95% adalah ajaran setanisme? Toh kita telah membuang Tuhan Yang Maha Esa dari sekolah-sekolah umum kita sudah sejak awal tahun 1960-an. Jadi, sekarang sekolah milik kita telah dibersihkan dari Tuhan selama tiga dekade, sekarang saatnya untuk memperkenalkan agama Anti-Kristus, murni Setanisme. Namun, pengenalan ini, setidaknya pada tahap awal, harus disamarkan, sehingga sebagian besar guru dan pengelola sekolah akan tertipu untuk sifat sejati ajaran ini. Jadi, Setanisme ajaran ini telah diperkenalkan ke sekolah-sekolah kita dengan kedok psikologi. (David Bay, Praktisi Pendidikan di Amerika).

Platosigmund-freud

Oleh: Pizaro

Psyche Sebuah Warisan Kaballah: Membongkar Teologi Yahudi dalam Pencetusan Ilmu Psikologi
Anda tahu bagaimanakah sebenarnya istilah Psikologi muncul? Tolong jangan ambil buku psikologi anda dulu. Karena disitu anda tidak akan pernah menemukan jawaban yang sebenarnya saya inginkan. Atau karena jabatan anda mahasiswa, psikolog dan konselor mungkin dengan itu bisa sekedar meredakan ketidakoptimisan saya? Ya sekalipun anda mahasiswa strata satu, bergelar master, atau mungkin saudara anda bertitel Profesor Psikologi sekalipun. Ini bukan saya mengecilkan arti pribadi anda, atau saya pesimis tentang wawasan keilmuan anda. Saya yakin anda orang hebat, tapi saya tidak yakin kurikulum keilmuan kita selama ini menampilkan fakta apa adanya tanpa aurat. Karena sekarang kita sedang berbicara tentang bagaimana sebuah rahasia disusun rapih. Tentang sebuah makna konspirasi yang tidak bisa dibaca dengan mata telanjang. Tentang bagaimana sebuah perkumpulan bawah tanah yang sedang bergerak membangun dunia. Dan tentang bangunan sistem nilai yang tengah dirancang untuk membuat tatanan dunia baru dengan menyingkirkan sistem yang kita yakini.
Suatu ketika Almarhum Sukanto MM, salah seorang akademisi yang begitu konsen terhadap Psikologi, sekaligus pencetus Nafsiologi, merasa keheranan yang luar biasa. Ia begitu bingung kenapa nama Psikologi harus dicomot dari istilah Psyche, gubahan Plato, filosof Yunani Kuno klasik dari 25 abad yang lalu itu. Padahal Plato hanya memberikan sinyal Psyche dari hasil lamunan semata, bersifat insitingtif dan pastinya spekulatif. Jika ditelusuri lebih jauh Plato dalam hipotesanya membagi manusia menjadi tiga bagian, yakni, akal, afeksi, dan nafsu. Akal menjuntai dikepala, afeksi terletak di dada, dan nafsu berada di perut.
Almarhum Sukanto menangkap jelas bahwa struktur Psyche Plato mengalami invaliditas kebenaran ilmiah. Alhasil Psikologi Plato telah kadung dicap gagal untuk menyerap aspirasi publik modern yang haus atas nafas keshahihan sebuah ilmu.
Selanjutnya, pengajar di Universitas Islam Batik Solo tersebut mengatakan gagasan Aristoteles dengan Entelechi-nya sedikit lebih baik, ketimbang mengacu kepada trilogy Plato itu. Sebab spekulasi yang sifatnya elementer seperti yang Plato cetuskan amat sukar dibuktikan. Ini bisa dipahami karena konsep Niskala Plato menjadi rumit untuk diendus dengan kemampuan Inderawi. Dan mosi ketidakpercayaan atas Psikologi menjadi tidak terelakkan.
Fakta menarik ditemukan bahwa sedari dulu Aristoteles sebagai murid Plato sendiri memang meyangkal adanya psyche yang diurai gurunya tersebut. Menurut Aristoteles, entelechi dengan badan membentuk kesatuan total sebagai susunan monodualis, bukan susunan dikotomi seperti dugaan Plato. Nah lho... Mungkin Pak Kanto, ingin berujar, "Terus buat apa kita gembar-gembor kan kata Psikologi? Konyol bukan?"
Andai Pak Kanto masih hidup saya ingin sekali mengajaknya minum teh hangat ditemani roti di pinggiran kedai kopi dalam romansa Kota Solo yang militan. Sebagai alumnus jurusan Konseling dan beberapa kali terpaksa terjebak dalam Pengkajian Psikologi, sampai botak pun saya belum menemukan dalam buku studi ilmu jiwa tercanggih sekalipun bahwa sisi gelap mengungkapkan ternyata Plato adalah seorang penganut Kaballah Sejati. Jika anda belum mengenal Studi tentang Yahudi, singkatnya Kaballah adalah "satanic ideology" yang dari zaman Mesir Kuno dan hingga saat ini telah mewarnai pemikiran keilmuan dunia demi kelanggengan Hegemoni ajaran Yahudi. Mengacu pada mos tersebut, tak berlebihan bahwa nama Kaballah adalah sisi terpenting dalam entitas Sistem Nilai Yahudi yang akan menguasai dunia kelak. Kesemuanya itu popular dalam sebutan New World Order: Sistem Dajjal, kata Ahmad Thompson.
Seperti kepercayaan Mesir purba, Kabbalah menolak keras bahwa hakikat material terjadi dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Kabbalah juga memvonis penciptaan manusia ala Islam menjadi sebuah isu semata. Bagi Kaballah, manusia adalah reinkarnasi, persis seperti teori evolusi Darwin. Individu juga tidak boleh diatur dalam sekat-sekat agama, karena manusia haruslah bebas membuat apa saja yang mereka kehendaki. Bagaimana mungkin manusia menjadi ampuh untuk diatur sedangkan individu adalah pusat materi. Dari titik tolah inilah timbul gagasan humanisme yang dalam psikologi bernama psikologi humanistik.
art-to_kabbalah1
Jama'ah Psikologi yang sejatinya atheis ini mencapai ribuan. Sayangnya didalamnya ada dosen, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), anggota Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi (IMAMUPSI) sekalipun, sampai mahasiswa Ushuluddin, Bimbingan Konseling (BK) dan Psikologi semester tingkat akhir. Kata mereka, Psikologi Humanis lebih dekat dengan manusia. Ya betul, dekat dengan manusia, sekaligus jauh dari Tuhan. Mengutip apa kata Harun Yahya, Humanis yang sejatinya paham atheis ini telah berhasil menipu ilmuwan, apalagi mahasiswa. Pada edisi berikutnya insya Allah akan penulis bahas.
Untuk lebih jeli memperhatikan pergerakan mereka, David Livingstone harus sampai menulis sebuah artikel monumental berjudul, Plato The Kabbalist. Disitu ia menulis bahwa harus menjadi keprihatinan kita bahwa gurita Filsuf Kabbalis seperti Plato ini telah menjadi pilar banyak doktrin yang telah melanda abad kedua puluh. Dan konyolnya, satu-satunya alasan dia telah mencapai reputasi besar adalah bahwa dalam rimba sejarah Barat dan Timur, tradisi okultisme Plato telah dianggap sebagai "godfather" dari berbagai doktrin, dan sebagai wakil besar dari orang-orang yang berhubungan dengan tradisi kuno Kabbalah.
Pada sisi lain, ajaran Kaballah tanpa terendus mata kemudian berkembang biak dengan baik dalam alam konspirasi keilmuan yang dilakukan Freemasonry (perkumpulan rahasia Yahudi). Padahal tradisi tersebut bertentangan dengan semangat ilmu, sebab tradisi Kabballah berasal dari peradaban jahiliah Mesir Purba, Yunani Purba, dan Rom yang telah membangun pra konsepsi akan sebuah atheisme sains. Di mana mereka yang seperti Fir'aun ini tidak mengakui wujud dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Cara mereka untuk melanggengkan jalan ini adalah dengan membina Heliopolis dan Memphis di mana tempat ini adalah sumber ilmu pengetahuan dan sains. Nama-nama seperti Pythagoras, Plato dan Cicero adalah sederetan filsuf yang menyertai Freemason ketika itu.
Majalah Mimar Sinan menyatakan tanggungjawab Fir'aun adalah mencari cahaya yakni ilmu. Ketika itu anggota Freemason berusaha membina kuil Sulaiman untuk memuluskan misi-misinya. Kisah ini ternyata tertangkap basah dan diberi garis bawah dengan jelas oleh Al- Qur'an pada surah Az-Zukhruf, ayat 54-55
"Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). "
Secara gamblang, historitas pergerakan mereka seperti yang diendus Al Qur'an berkembang dengan tujuan gerakan Freemasonry secara umum memiliki empat visi yakni, Menghapus semua agama. Menghapus sistem keluarga. Mengkucarkacirkan sistem politik dunia. Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia.
Perdebatan Pscyhe dalam Teologi Kristen
Yang menarik adalah bahwa istilah ideology Kaballah dalam Psyche Plato sebelumnya sudah menjadi perdebatan sengit dalam teologi Kristen. Dalam sebuah catatan dari Wisma Gembala, dikisahkan bahwa Pada 300 tahun sebelum kelahiran Kristus, Alexander Agung (Iskandar Agung), merambah dan menjajah banyak negeri. Dari Yunani dia bergerak menaklukkan seluruh Asia Barat, lalu menaklukkan Afghanistan, bahkan sempat memasuki India, sebelum penjelajahannya berakhir.
Selama ratusan tahun, negeri Israel berada di bawah penjajahan Yunani (sebelum penjajahan Romawi), sehingga pada masa Yesus, bahasa Yunani menjadi bahasa sehari-hari di Israel. Masuk jugalah budaya dan ajaran Yunani ke dalam pemahaman para pengajar Israel di kala itu.
Selanjutnya di catatan itu dijelaskan bahwasanya Guru-guru bangsa Yunani adalah ahli-ahli filsafat yang dihormati kendati mereka tidak mengenal dan tidak mengakui Tuhannya orang Yahudi. Mereka hanya mengakui dewa-dewi. Yang Maha Tinggi, dan mereka beri sebutan 'Theos'.
Pada esensinya, Filosof Yunani menganut paham bahwa manusia terdiri atas dua bagian saja atau biasa disebut teori Manusia-2-unsur. Pertama, unsur yang kasat mata (baca: tubuh) dan unsur yang tidak-kasat-mata yang dalam filosofi Yunani kemudian disebut 'psyche' dan dalam bahsa Indonesia dikenal dengan aksioma jiwa. Paham filsafat Yunani ini mengajarkan lebih jauh bahwa 'psyche' adalah sesuatu yang abadi dan pasti tidak dapat binasa. Hal ini tertuang dalam buku "Memperkenalkan Theologia Perjanjian Baru" hlm.72 karangan A.M.Hunter yang menjelaskan bahwa:
"Berikutnya, Kebangkitan itu menunjukkan kekalahan maut. Ini memerlukan pendefinisian yang hati-hati. Mari kita menjelaskannya dengan mengatakan, bahwa orang Kristen pertama tidak mengatakan bahwa Kebangkitan itu suatu pembuktian dramatis kebenaran bahwa manusia tinggal hidup sesudah kematian: seolah-olah suatu bukti lagi yang ditambahkan kepada serentetan bukti-bukti tentang keabadian jiwa (suatu doktrin yang bukan Yahudi, melainkan Yunani)."
Dari sini kita menjadi paham bahwa dari pemikiran filsafat Socrates dan Plato (dua orang filosof Yunani) berkembanglah apa yang kita kenal selama ini, yakni Ilmu Psikologi! Wisma gembala menjelaskan bahwa sejatinya psikologi bukanlah sebuah ilmu yang kita bayangkan sebelumnya. Selama ini kita mencicipi definisi psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mempelajari perilaku dengan metode ilmiah. Namun sejatinya psikologi tak bisa berkelit ketika tertangkap tangan tengah mencoba melenyapkan Tuhan di dalam seluruh pengajarannya dan menjalankan nilai-nilai kebadian khas Kabbalis! Baik teori intelegensi, teori kepribadian, teori sosial, atau praktik konseling.
Itu memang menjadi keniscayaan hingga kini. Bayangkan Calvin Hall dan Gardner Lindzey saja dalam tiga jilid bukunya tak satupun merumuskan tiga aliran Psikologi yang menyertakan Tuhan dalam tampilan yang sebetulnya. Setali tiga uang, John Nevid dalam Psikologi Abnormal-nya pun demikian. Ivan Pavlov lebih gila lagi mencoba menyebut manusia sebagai binatang. Sigmund Freud? jangan ditanya, orang shalat saja dibilang sakit. Ini semua bermula dari gagasan materialisme dan humanisme yang dipelajari dan dipraktekan para psikolog terhadap pasien-nya dan konselor kepada anak didiknya.
Selanjutnya, dari fakta penjajahan Yunani ini serta fakta bahwa Perjanjian Baru awalnya di tuliskan di dalam bahasa Yunani, terjadilah perembesan paham. Menurut teologi Kristen inilah rupanya yang mengakibatkan masuknya istilah 'psyche' (Indonesia: 'jiwa') ke dalam Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Baru, istilah 'jiwa' ditemukan dalam 34-ayat, tetapi yang paling tersohor adalah yang dianggap menopang Teori Manusia yang terdiri dari 3 unsur. Pertama dalam Matius .10:28
"Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka."
Dan kedua dalam Ibrani.4:12,
"Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."

Selanjutnya dapat diuraikan bahwa dalam waktu yang bersamaan, di Israel masih terpelihara pengajaran dari filsafat agama Yahudi, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas dua bagian juga: bagian yang kasat mata (Indonesia: tubuh) dan yang tidak-kasat-mata (Ibrani: 'ruach'; Indonesia: 'roh' atau 'nafas-kehidupan'). Ini adalah Teori Manusia 2 unsur yang berasal dari Filosof Yunani, yang tidak mengakui hadirnya roh-roh. Dengan tidak mengakui adanya roh, ajaran ini juga tidak mengakui adanya Tuhan. Sebab Roh adaah bagian dari Tuhan.
Apa yang menjadi kekhawatiran para penganut Kristiani dalam melihat Psikologi sebenarnya tidak lepas dari andil ideologi humanisme yang mengklaim bahwa manusia bertanggung jawab besar terhadap keberadaannya. Kaum Kabbalis menolak intervensi Tuhan dan turut serta menyanjung Iblis sebagai alam yang membawa pencerahan atau akrab disebut dengan istilah Lucifer.
Kaum Kabbbalis mempercayai bahwa kekuasaan yang berasal dari cahaya, api dan matahari merupakan simbolisasi dari iblis. Namun tentunya mereka tampil tidak dengan rupa yang menakutkan, karena Lucifer kemudian melahirkan Illuminati yang berjalan dengan baju indah tapi bernama ideologi sains tanpa Tuhan.
Kesemuanya hadir atas nama ilmiah, demi sebuah objektifitas. Dan kita semakin mengerti bahwa istilah ilmu itu objektif dan mestilah empiric, lahir dari gagasan ini, termasuk psikotes yang sarat positivistik. Seperti yang sudah penulis uraikan, bahwa kesemua itu pada dasarnya adalah tipuan semata dan taktik bagaimana Barat ingin membunuh Tuhan tanpa meninggalkan jejak.
Dialektika Psyche dalam perdebatan teologi Kristen menjadi semakin menarik untuk diungkap, karena pada dasarnya Psyche ini memiliki andil terbesar untuk menjerumuskan kaum Kristiani dalam rimba sains minus Tuhan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh Gereja.
Jika kita teliti mendalam, kekhawatiran itu sebenarnya tidak saja mendera Gereja. Kita bisa menyimpulkan bahwa Istilah Psyche inilah yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan Psikologi. Studi ilmu yang hakikatnya dalam Islam dinilai sebagai upaya mendekatkan kita kepada jalan takwa, diubah sedemkian rupa untuk menjatuhkan umat muslim pada lubang yang ditutupi daun bernama misi menghapus agama. Korbannya adalah kita-kita semua, murid kita, anak kita, dan lebih bahaya lagi masa depan serta akidah kita.
Jalan terang dari Islam untuk melawan Hegemoni Yahudi
David Livingstone melihat doktrin Kabbala kepada hal yang lebih mendalam lagi. Bahwa filsafat yang kadung kita sebut sebagai pucuk ilmu, ternyata semata-mata merupakan perampasan ide-ide dari orang Majus Babel, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh ide-ide Kabbalistik Yahudi awal.
Tanpa dinyana thesa Livingstone telah merasuk ke puluhan ribu fakultas dan jurusan Psikologi yang ada di dunia, termasuk seratusannya bercokol di Negara penduduk Muslim ini. Adnin Armas MA dalam sebuah kesempatan pada kajian keislaman di INSIST mengungkapkan sebuah fakta. Ia mengungkapkan sebuah perjalanan ilmu yang coba disangkutkan kepada Sistem Peradaban Yunani. Isitah-isitlah ilmu yang mestinya menjadi domain yang khas Islam, tak bisa dielakkan selalu dibenturkan kepada peradaban Yunani. Kita ketahui bersama bahwa isitlah segala ilmu dan peradaban kerap diacarikan akarnya dari peradaban Yunani, seperti contoh Demokrasi, dari kata Yunani Demos Kratos. Antropologi, anthropos dan logos. Padahal secara jujur filosofi Yunani tidak menyumbangkan makna "Tuhan" bagi umat Islam. Cenderung merusak dan jauh dari harapan.
Ditambahkan oleh Armas, mengutip atas apa yang diteliti oleh Adi Setia dalam Thesisnya di ISTAC, Malaysia, bahwa peradaban Yunani ternyata tidak berdiri tunggal. Corak filsafat Yunani memiliki rumpun yang muaranya bisa "diprovokasi" pada pengaruh kuat peradaban Mesir Kuno. Sebuah peradaban yang sebelumnya telah eksis.
Balik kepada perdebatan awal, istilah Psyche yang diungkapkan oleh Plato, memang tidak hanya mengalami kecacatan ilmiah dalam literature saintifika, tapi juga menjadi semakin terang kekeliruannya ketika Islam ikut bermain untuk menjawab dalam carut marut ini. Dalam warisan epistemologi Islam, gagasan Psyche tidaklah menegasikan tentang arti Tuhan.
Pak Sukanto Mulyomartono dalam bukunya Nafsiologi Suatu Pendekatan Alternatif atas Psikologi, lebih khusus menampik aksara psyche dan menyebut psikologi dengan istilah baru, yakni "Nafsiologi." Penggunaan istilah ini disebabkan objek kajian psikologi dalam Islam adalah al-nafs, yaitu aspek psikopisik pada diri manusia. Term al-nafs tidak dapat disamakan dengan term soul atau psyche dalam psikologi kontemporer Barat dan Plato, sebab al-nafs merupakan gabungan antara substansi jasmani dan substansi ruhani, sedangkan soul atau psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia.
Sukanto melanjutkan bahwa jika Psyche adalah simbiosa hasil pikiran manusia, maka nafsiologi membahas nafs yang pengertiannya diambil dari Al Qur'an. Abdul Mujib, Profesor Psikologi Islam dari UIN Jakarta, melihat bahwa nafs dalam konteks ini berarti psikofisik manusia, yang mana komponen jasad dan ruh telah bersinergi, tidak terpisah seperti apa kata Plato. Apabila ia berorientasi pada jasad, maka perilakunya akan buruk, tetapi apabila mengacu pada natur ruh kehidupannya akan menjadi baik. Pada momen ini manusia memiliki kebebasan berkehendak yang memungkinkan manusia secara sadar mengarahkan dirinya ke arah keluhuran dan kesesatan.
Berbeda dengan Psikologi modern saat ini, Islam membicarakan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Aspek-aspek kejiwaan dalam Islam berupa al-ruh, al-nafs, al-kalb, al-'aql, al-dhamir, al-lubb, al-fu'ad, al-sirr, al-fithrah, dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut memiliki eksistensi, dinamisme, proses, fungsi, dan perilaku yang perlu dikaji melalui al-Qur'an, al-Sunnah, serta dari khazanah pemikiran Islam.
Sejatinya, Islam tidak hanya menekankan perilaku kejiwaan, melainkan juga apa hakekat jiwa sesungguhnya. Sebagai satu organisasi permanen, jiwa manusia bersifat potensial yang aktualisasinya dalam bentuk perilaku sangat tergantung pada daya upaya (ikhtiyar)-nya. Dari sini nampak bahwa Islam mengakui adanya kesadaran dan kebebasan manusia untuk berkreasi, berpikir, berkehendak, dan bersikap secara sadar, walaupun dalam kebebasan tersebut tetap dalam koredor sunnah-sunnah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Gagasan seperti ini tidak ada dalam literature Barat.
Mujib menambahkan bahwa nafs mempunyai potensi gharizah yang dalam arti etimologi berarti insting, naluri, tabiat, perangai, kejadian laten, ciptaan, dan dapat dipecah menuju tiga bagian, yakni (a) qalb yang berkaitan dengan rasa atau emosi. (b) Akal yang berkaitan dengan cipta dan kognisi, dan (c) nafsu yang berhubungan dengan karsa atau konasi.
Satu hal yang membantah konsep psikologi saat ini, bahwa dalam Islam jiwa selalu mengakui adanya kebenaran dari Allah. Konsep fitrah yang menjadi trademark Islam dengan jelas disebut oleh al-Ghazali ketika mengurai nafs. Al-Ghazali menyatakan bahwa kalbu memiliki jiwa ruhani yang disebut kalbu ruhani. Karakteristiknya menurut al-Ghazali menarik untuk disimak:
1. Ia memiliki insting yang disebut annur al ilahi (cahaya ketuhanan) dan al bashirah al bathiniah (mata batin) yang memancarkan keimanan dan keyakinan.
2. Ia diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrah asalnya dan berkecendrungan menerima kebenaranNya.
Dengan konsep fitrah, Islam memandang bahwa semua manusia adalah baik dan manusia selalu ingin kembali kepada Kebenaran Sejati (Allah). Ini dipertegas dalam al-Qur'an, surat al A'raaf 7: 172.
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)",
Plato juga tidak bisa menampik bahwa Ruh adalah elemen yang penting dalam skala jiwa manusia. Dimana Ruh adalah nyata sesuai yang tertuang dalam Al Qur'an.
"Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat."(Surat At Tahrim ayat 12)
Para ulama klasik juga menyusuri gagsan tentang Ruh dalam struktur kehidupan manusia. Ibnu Taimiyyah, misalnya menyatakan bahwa kata al-ruh juga digunakan untuk pengertian jiwa (nafs). Ruh yang mengatur badan yang ditinggalkan setelah kematian adalah ruh yang dihembuskan ke dalamnya (badan) dan jiwalah yang meninggalkan badan melalui proses kematian. Ruh yang dicabut pada saat kematian dan saat tidur disebut ruh dan jiwa (nafs). Begitu pula yang diangkat ke langit disebut ruh dan nafs. Ia disebut nafs karena sifatnya yang mengatur badan, dan disebut ruh karena sifat lembutnya. Kata ruh sendiri identik dengan kelembutan, sehingga angin juga disebut ruh.
518r53Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah menggunakan istilah ruh dan nafs untuk pengertian yang sama. Nafs (jiwa) adalah substansi yang bersifat nurani 'alawi khafif hayy mutaharrik atau jism yang mengandung nur, berada di tempat yang tinggi, lembut, hidup dan bersifat dinamis. Jism ini menembus substansi anggota tubuh dan mengalir bagaikan air atau minyak zaitun atau api di dalam kayu bakar. Selama anggota badan dalam keadaan baik untuk menerima pengaruh yang melimpah di atasnya dari jism yang lembut ini, maka ia akan tetap membuat jaringan dengan bagian-bagian tubuh. Kemudian pengaruh ini akan memberinya manfaat berupa rasa, gerak dan keinginan.
Di dalam ayat yang lain, Allah menyebut Al-Qur'an dengan ruh, dan salah satu makna ruh di sini adalah segala yang menjadikan hati hidup penuh dengan makna. Sebagaimana halnya tubuh, jika di dalamnya ada ruh maka dia akan hidup dan jika ruh keluar dari badan maka dia akan mati. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu/Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.،¨ (QS. Asy-Syuraa: 52)
Sayyid Quthb juga mendelegasikan pandangannya tentang penamaan Al-Qur'an dengan ruh berdasarkan firman Allah: "(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai 'Arsy, Yang memberi ruh dengan (membawa) perintahNya kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)." (QS. Ghafir: 15) Redaksi yang digunakan dalam ayat ini mengisyaratkan dua hal: pertama, bahwa wahyu (Al-Qur'an) adalah ruh dan kehidupan bagi manusia, tanpa ruh ini manusia tidak akan bisa hidup dengan baik dan benar.
Kedua, bahwa wahyu itu turun dari tempat yang tinggi kepada siapa yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Redaksi ini bertepatan dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Dengan begini gagasan Plato tentang Psyche dan Psikologi jelmaan Kaballah saat ini menjadi terbantahkan. Hegemoni kaballah dalam epistemology Psikologi mengalami dua problem vital yang harus menjadi pusat perhatian para ilmuwan Muslim. Pertama karena gagasan psyche Plato dan derivate psikologi saat ini menggiring opini kita untuk mengingkari keberadaan Tuhan, dan lebih-lebih tidak hanya itu psikologi saat ini mencoba membunuh Tuhan serta mempromosikan nilai-nilai Kaballah.
Kedua, warisan Kaballah mencoba melanggengkan determenisme materi asbolut yang tidak diciptakan dari ketiadaan, tapi sudah ada. Ini berbenturan dari konsep manusia dalam Islam bahwa manusia diciptakan dari ketiaadaan. Al Ghazali dalam Kitab Kimiatus Sa'adahnya sampai harus mengingatkan perkara seperti ini dalam Bab Marifatullah-nya dengan sebuah ayat,
Tidakkah manusia tahu bahwa sebelumnya ia bukan apa-apa (76: 1)
Dengan melihat persekongkolan jilid awal dalam psikologi ini, tentunya hegemoni Yahudi belumlah usai, masih banyak derivate dari nilainya yang berkamuflase dalam psikologi dan konseling kedepannya. Semangat untuk melawannya haruslah menjadi ijtihad semua umat muslim, baik mahasiswa, dosen, akademisi, ulama, dan sebagainya.

Sumber: http://www.facebook.com/topic.php?uid=111548335540451&topic=27

Kamis, 05 Januari 2012

Kisah-kisah Inspirasi Dari Buku JCPP

Kisah JCPP diangkat dari buku Jalan Cinta Para Pejuang silahkan didownload...

http://www.mediafire.com/?reu7rmfsd9bhj24

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites